Pages

March 1, 2012

Simply, Love. #2

Adi tersadar dari bayangan masa kecilnya, masa-masa dimana dia dibawa ke tempat yang bernama sekolah. Adi masih mengingat dengan jelas bagaimana saat dia masuk ke taman kanak-kanak untuk pertama kalinya.

Tahun ajaran baru di sekolah dasar dimulai dan tetap saja, Adi tidak merasakan sesuatu hal yang spesial tentang sekolah. Adi hanya menunggu bel yang menjadi tanda masuk kelas di pagi hari itu. Menunggu dan menunggu, hingga seseorang mendekatinya dan menyapa dirinya..
"Hoooi, Adi..! Apa kabar?". 
Adi menoleh ke arah suara panggilan itu datang dan dia mendapati seorang yang tak asing lagi perawakannya.
"Eh, kamu Yong kan?". Sahut Adi dengan polosnya.
"Iya, kita kan teman sejak TK dulu..". Begitu kata Yong.
Teman? Bagi Adi, ini pertama kalinya dia mengetahui bahwa Yong menganggapnya teman. Tentu saja hal itu membuat Adi senang, dan itulah awal persahabatan antara Adi dan Yong. Ya, persahabatan bisa terjadi hanya dengan keadaan atau kondisi yang sederhana.


Hari-hari Adi di sekolah kini lebih berarti setelah dia dan Yong menjalin persahabatan. Ya, hal itu cukup membuat Adi melupakan sedikit akan rasa bencinya dengan sekolah. Hingga suatu pagi hari, saat di sekolah masih tidak banyak siswa lain, sambil menunggu bel masuk kelas, Adi melihat ke arah gadis yang sedang duduk di pelataran kelas sebelah. Adi merasa ada sesuatu yang berbeda saat melihat gadis itu. Matanya terus memandang ke arah gadis itu, berharap dia mengenal siapa gadis itu.

Lama sekali Adi memandang ke arah gadis itu, memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh gadis tersebut, hingga sebuah kata dalam hatinya terucap..
"..cantik..".
Sejenak Adi menyadari, ini berbeda dari biasanya. Jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya, sehingga membuat dirinya bisa mendengar suara jantungnya sendiri. Sambil memandangi gadis tersebut dari kejauhan, Adi pun mulai dapat menyadari, bahwa dirinya sedang mengalami apa yang namanya jatuh cinta. Itulah kali pertama Adi merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Senang, cemas, resah, malu, semua bercampur menjadi satu. Namun, Adi yang masih kecil belum dapat menyadari hal itu dengan jelas.

It is so simple, and it is called love..