Pages

March 11, 2012

Simply, Love. #3

Adi kini duduk di kelas 6 sekolah dasar. Adi masih sama seperti dahulu, terutama soal prestasinya di bangku sekolah dasar. Prestasinya tergolong buruk dan hal itu seringkali membuat dirinya takut saat harus pulang ke rumah, bahkan malu saat hasil ujian harus dibagi dengan gaya wali kelasnya yang membacakan nilai anak-anak didiknya satu per satu. Adi hanya bisa menghela nafas, terutama ketika mengingat saat-saat indahnya di masa lalu yang harus berakhir dengan begitu cepat. Ya, itu benar, seorang gadis yang pertama kali dia lihat beberapa tahun lalu dan baru 1 sampai 2 tahun menjadi temannya, harus pindah sekolah. Bagi Adi, itu berarti dia akan sulit melihat sosok gadis itu lagi, sungguh menyesakkan dada Adi. *sigh*

Pertemanan itu memang sempat terjadi. Mengingat kisah yang dimulai dari pandangan Adi di suatu pagi, dimana keadaan sekolah masih lengang, hal itu akhirnya berlanjut hingga Adi dapat mengenal dan menjadi teman si gadis itu. Ella, ya itulah sapaan si gadis itu. Adi tahu dirinya terpikat pada pesona kecantikan Ella. Disamping itu, Ella adalah seorang gadis yang menonjol secara prestasi di kelas. Ranking 1 hampir selalu diraih Ella. Namun, Adi tak pernah mengatakan apa yang dia rasakan kepada Ella. Malu, takut, merasa kecil, semua bercampur menjadi satu. Tak lupa, prestasi Adi yang jauh dibanding dengan Ella, membuat dirinya minder.

Sebagai seorang gadis cantik dan berprestasi di sekolah, tentu saja banyak yang mendekati Ella. Seperti bunga mekar yang harum, tentu saja banyak kumbang berdatangan. Tapi kumbang ada banyak macam, kumbang macam manakah si Adi?


Adi merasa diri minder. Adi merasa dirinya tidak setampan teman-teman lain yang berusaha mendekat Ella. Lama dia terpuruk dalam pemikiran yang menyiksa dirinya itu. Namun, Adi menemukan hal yang mungkin bisa menarik perhatian Ella. Adi tahu, setiap istirahat pagi, Ella selalu duduk di bangku taman dengan membawa bekalnya, dan menghabiskan waktu 15 menit di sana, duduk menikmati bekal dan melihat teman-teman laki-laki lain yang bermain di waktu istirahat. Mudah saja, Adi selalu berusaha melakukan hal-hal yang bertujuan untuk membuat perhatian Ella tertuju padanya, mulai dari berlari sangat kencang di hadapan Ella hingga pura-pura terjatuh dan kesakitan. Ya, semua itu cukup menarik perhatian Ella. Dan benar saja, Adi rela melakukan semua itu hanya untuk bisa lebih dekat dengan Ella.

Tak jarang, Ella tampak malu-malu di hadapan Adi. Adi sempat menyadari hal itu, namun sifatnya yang masih kekanak-kanakan membuatnya lupa akan hal itu, dan semua itu kembali ke persoalan yang sering disebut oleh orang dewasa sebagai Cinta. Lama Adi berusaha untuk mengenal, mendekati dan berteman dengan Ella, tanpa tahu bagaimana perasaan Ella kepadanya.

Semua itu berlanjut hingga di suatu hari, hari ulang tahun Adi. Pagi itu Adi mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari ayah, ibu dan dua saudaranya. Adi menjalani hari itu seperti biasa, pergi ke sekolah. Biasa saja, hari itu bergulir dengan cepat, hingga tiba saatnya Adi tiba kembali di rumah. Di sana ayah dan ibunya berkata bahwa dirinya mendapatkan kado. Dibukanya kado itu dan Adi mendapati sebuah mainan mobil-mobilan bewarna kuning. Adi senang! Perasaannya semakin terbawa gembira ketika dia tahu bahwa kado itu berasal dari Ella. Ya, Adi sangat senang, sepertinya segala sesuatu terjawab, begitu pikirnya.

Bagaimana itu terjadi? Ternyata di hari sebelumnya, Ella telah meminta uang kepada ayah dan ibunya, dan hanya berkata bahwa dia akan pergi membeli sesuatu. Dan yang dibelinya adalah kado untuk Adi. Cerita itu terungkap karena orang tua Ella adalah teman ngobrol orang tua Adi di sekolah. Tahulah bagaimana orang tua saling membicarakan tingkah laku anak-anaknya. *gelak tawa terdengar..*

Ya, itu hal terindah terakhir yang masih Adi ingat selalu. Adi tahu, dia bakal sulit melihat raut wajah Ella seperti biasanya. Sedih, tapi itu harus dijalani oleh Adi.

Semangatlah Adi!