Pages

February 22, 2012

Simply, Love. #1

Adi, usia 7 tahun, seorang anak kecil yang polos yang tinggal di sebuah kota sederhana tak menyangka bahwa dirinya telah duduk di kelas 1 sekolah dasar. Sejenak ia mengingat masa lalunya di taman kanak-kanak, satu hal yang masih tertanam di pikirannya. "Sekolah adalah tempat yang menyebalkan, dan bersekolah adalah hal yang menyebalkan.."

Semuanya itu bermula di suatu hari, Ayah dan Ibu Adi membawanya untuk pergi ke sekolah. Namun di pagi hari itu, pembicaraan antara Ayah, Ibu dan Adi pun berlangsung..
"Adi, ayo cepet ganti baju kamu". Ayah dan Ibu sudah berpakaian rapi.
"Ah, mau kemana sih pagi-pagi gini".
"Sudah, ayo kamu pakai bajumu ini". Ibu terkesan memaksakan baju yang sudah disiapkannya kepada Adi.
"Haduh, mau ke mana sih? Pokoknya aku gak mau sekolaaaaah!", sahut Adi yang sedikit menyimpulkan apa itu sekolah dari kakaknya yang sudah bersekolah terlebih dahulu.
"Kita mau ke swalayan, ayo sudah cepet pakai itu baju.", sahut Ibu.
Adi sejenak bingung, kenapa harus pagi-pagi ke swalayan? (Ah, sungguh pemikiran yang bodoh. Seharusnya yang perlu dipertanyakan, emang ada swalayan buka jam 7 pagi begini?). Ya, pemikiran itu menunjukkan kepolosan bocah yang bernama Adi itu. Percayalah si Adi kepada Ayah dan Ibunya dan mereka berangkat.

Dengan hati riang, Adi masih berpikir camilan apa saja yang akan dibelinya nanti di swalayan. Memang, Adi suka makan camilan, dan sering lupa menggosok giginya. Itulah yang menyebabkan giginya tidak bagus. Lama di perjalanan, tiba-tiba Adi menyadari bahwa swalayan yang dimaksud dalam pembicaraan di pagi tadi telah lewat dari pandangannya.
"Lho, kok ga belok ke sana?", sambil menunjuk swalayan yang dimaksud.
"......". Ayah dan Ibu tidak berbicara sepatah kata pun.
Dan apa yang terjadi? Tibalah Adi bersama Ayah dan Ibunya di tempat yang bernama sekolah! Adi cepat sadar dan segera berontak.
"Gaaaaaaaaaaaakk MAUUUUU!!". 
Namun Ibu tetap saja menggendong Adi dan menemui seorang wanita muda dengan rambut sebahu dan percakapan yang terjadi antara Ibu dan wanita muda itu cukup singkat.
"Titip anak saya ya bu..". Sambil menyerahkan Adi yang masih berontak kepada wanita muda itu.
Setelah menyerahkan Adi, berjalanlah Ibu menjauh dari pandangan Adi. Menangislah Adi dengan keras...
"MAAAMAAAAAAAAAA..!!". Adi meraung-raung.
Namun, Ibu hanya menoleh dengan menunjukkan wajah tersenyum bercampur dengan rasa iba melihat si Adi menangis sambil memanggil-manggil dirinya. Dan Adi masih tidak mengerti dan terus menangis, mengapa Ibu meninggalkannya? "Huaaaa... Maaamaaaaaa...!".
(to be continued..)