Pages

April 26, 2010

..karena kita diciptakan untuk berbagi hidup dengan mereka..

26 april 2010, hari itu aku menjalani hari-hariku seperti biasa tentunya. Hari itu hari senin, dimana jadwal kuliahku tidak terlalu padat, jadi bisa pulang lebih awal daripada biasanya. Sepulang kuliah sekitar pukul 3 sore, seperti biasa, yang kupegang terlebih dahulu adalah tugas sehari-hari. Hari itu aku juga ada janji ke gereja pukul 17.30, dan saat aku selesai dengan tugas-tugasku, jam sudah menunjukkan sekitar pukul 4 lebih. Tentu saja aku memilih beristirahat sejenak sebelum aku bersiap-siap ke gereja.


Setelah sekian lama jarang meluangkan waktu untuk duduk di depan televisi (karena waktuku banyak terpakai untuk tugas-tugas kuliahku), kali ini aku memakai waktu yang ada untuk menonton televisi. Televisi kunyalakan dan setelah berganti channel beberapa kali, sampailah aku di sebuah channel dimana di sana menayangkan sebuah reality show yang biasanya selalu aku skip, karena aku kurang setuju alias kurang nyaman dengan reality show. Maksudnya ada pro dan kontra lah. Tetapi disini bukan itu yang akan aku permasalahkan.

Saat itu reality show sudah berlangsung dan aku tidak mengikutinya dari awal, mungkin yang aku lihat yaitu bagian tengah sampai akhir. Tak biasanya mataku terpaku terus di reality show tersebut. Cerita yang ada masih sama seperti pada umumnya dimana ada seseorang yang meminta bantuan dan mencari orang lain yang ingin membantunya. Saat itu yang meminta bantuan adalah seseorang yang mungkin tidak sempurna secara fisik (fisik dan umurnya tidak sesuai). Orang tersebut berkeliling kota Semarang kalau aku tidak salah dengar. Dia membawa sepasang sepatu yang butut dan beberapa kali bertanya kepada orang-orang disekitarnya, "..apakah saya bisa menukar sepatu ini dengan sepatu yang lebih bagus? Jelek pun tidak apa yang penting masih bisa dipakai karena sepatu ini sudah berlubang.."

Ya, sulit sekali mencari orang yang diharapkan untuk bisa mewujudkan apa yang dia inginkan. Dia sudah berjalan kesana-kemari dan menerima tolakan dari orang-rang yang dia mintai bantuan. Aku juga tidak terlalu memperhatikan saat-saat dia ditolak oleh orang yang dimintai bantuan olehnya. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah tepi jalan dimana ada sebuah tenda yang menurutku sudah tidak layak untuk dihuni. Suasana di sana seperti daerah untuk loak/rombeng barang. Di depan tenda itu ada banyak sekali baju dan sepatu yang sudah usang. Dia menuju ke sana dan melihat kedalam tenda yang lubangnya hampir tertutup oleh tumpukan baju dan sepatu usang tersebut.

Sesampai di depan tenda tersebut, dia memanggil kedalam tenda, berharap orang yang ada di dalam tenda dapat membantu untuk mewujudkan keinginannya, yaitu menukar sepatu berlubang yang dia bawa dengan sepatu yang masih bisa dipakai. Dan dari dalam tenda usang tersebut terlihat seorang nenek yang mengeluarkan kepalanya untuk menanggapi dia yang membutuhkan bantuan. Aku terdiam sejenak, setengah kaget melihat seorang nenek yang sudah sangat tua, giginya sudah tidak ada terlihat dari mulut dan bibirnya yang menjorok ke dalam. Raut muka nenek itu juga lesu sekali, dengan garis-garis di dahi dan bagian wajah lainnya yang sangat jelas sekali. Dengan keadaan seperti itu nenek tersebut mendengar apa yang dikatakan oleh dia yang meminta bantuan..

dia: "..permisi nek, ini saya mau minta bantuan, sepatu saya berlubang, bolehkah saya menukar sepatu ini dengan sepatu yang masih layak pakai? Jelek tidak apa yang penting tidak berlubang. Kasihan adik saya nek, sepatu ini miliknya nek.."

nenek: *dengan menganggukkan kepalanya serta suara yang sangat pelan yang keluar dari mulutnya, nenek itu menjawab* "..ya.."

dia: "..benar nek? Saya boleh menukar sepatu adik saya dengan sepatu ini..?" *sambil mengangkat salah satu sepatu yang ada di tumpukan sepatu usang di sana, serta memastikan kembali akan jawaban nenek tersebut*

nenek: *masih dengan suara yang perlahan serta bisikan dari mulutnya* "..boleh.."

dia: *mengambil sepatu yang telah dipilihnya dari tumpukan sepatu usang dan menaruh sepatunya yang berlubang di sana sebagai gantinya* "..terima kasih ya nek.."

Nenek tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan perlahan. Lalu pergilah dia yang meminta bantuan, dan nenek itu masih melihat ke arah dia yang telah pergi membawa sepatu yang telah ditukar tadi. Raut wajah nenek itu sangat lesu, sungguh sangat lesu sekali, sampai perasaan di dalam diriku ini turut digoyang. Perlahan nenek itu kembali masuk ke dalam tendanya yang usang. Aku merasa kasihan sekali dengan nenek itu. Tiba saatnya, karena ini reality show, nenek itu berhak atas reward karena nenek itu telah membantu dia yang membutuhkan bantuan.

Tak lama kemudian salah seorang tim reality show mendatangi tenda nenek itu, dengan maksud ingin memberikan reward kepada nenek tersebut. Kamera tersembunyi masih terus menyorot ke arah tenda tersebut. Saat salah seorang dari tim itu tiba di depan tenda tersebut, orang itu memanggil ke dalam tenda, berharap nenek itu keluar dari tendanya. Tak lama kemudian nenek itu keluar dan dimulailah percakapan antara perwakilan tim reality show dan nenek tersebut..

tim: "..nek, jualan apa ini..?"

nenek: "..ya ini, jualan barang-barang ini, loak/rombeng.."

tim: "..sepatu dan baju ini nek..? sepatu yang berlubang ini juga nek..?" *bertanya sambil melihat ke arah sepatu yang tadi ditukarkan oleh orang yang memerlukan bantuan*

nenek: "..iya, itu tadi punya nonik tadi, dia minta tukar.."

tim: "..nonik mana nek..?"

nenek: "..ya tadi ada nonik minta tukar.."

tim: "..ooh.."

nenek: "..ya, buat makan sehari-hari, lha wong sampai sekarang saya belum makan mas.."

tim: "..belum makan nek? dagangannya sudah laku berapa nek hari ini..?"

nenek: "..2000 rupiah mas.., kalau ada yang ngasih ya makan mas.." *dengan raut wajah yang sangat kusut*

tim: "..2000 rupiah itu laku sepasang..?"

nenek: "..laku dua sepatu, dua pasang mas, satu pasang 1000 rupiah.." 

tim: "..oooh.."

nenek: "..saya sudah tua mas, umur saya sudah 97 tahun mas.."

tim: "..nenek hidup sendirian? anaknya kemana nek? suaminya..?"

nenek: "..suami saya sudah meninggal, saya tidak punya anak.."

tim: "..tidak punya anak..?" *bertanya lebih jauh kepada nenek tersebut*

nenek: "..ya, suami saya jarang kumpul sama saya, dulu saya buruh mas, suami ya tiap hari datang untuk memasakkan saya nasi untuk makan mas. sekarang suami saya sudah berpulang, saya hidup sendirian.."

tim: "..lho lha kalo nenek kelaparan tidak bisa makan bagaimana..?"

nenek: "..ya kalau saya sudah tidak kuat lagi ya terpaksa saya meminta-minta kepada orang yang lewat, mas saya minta makanannya, saya belum makan mas.." *sambil memperagakan gayanya berbicara saat harus meminta makanan untuk mengisi perutnya*

tim: "..oooh.."

nenek: "..saya sudah tua mas, saya sudah rapuh, saya minta sama Tuhan supaya saya mati saja.."

tim: "..nenek yang tabah ya, sampai sekarang nenek masih bisa berjuang untuk hidup nenek.."

nenek: "..iya mas.., saya sudah ndak kuat, saya minta Tuhan, saya mati saja Tuhan *sambil menangis*.. tapi hidup saya masih lama mas.."

tim: "..nenek yang tabah ya nek.."

Lalu perwakilan dari tim tersebut mengeluarkan sejumlah uang yang merupakan reward untuk nenek tersebut..

tim: "..ini nek ada sedikit berkat, semoga bisa membantu.." *menyodorkan sejumlah uang kepada nenek tersebut*

nenek: *menangkap pergelangan tangan perwakilan dari tim reality show dan bertanya kepada orang tersebut secara perlahan* "..kamu tinggal di mana nak..?"

tim: "..saya tinggal di sekitar sini, semarang.."

nenek: "siapa nama kamu nak..?"

tim: *menyebutkan namanya*

nenek: *memanggil nama orang tersbut dan berkata* "..terima kasih ya nak, semoga Tuhan yang akan membalasnya ke kamu nanti.."

tim: "..iya nek, terima kasih, nenek yang tabah ya.."

nenek: "..sering-sering kunjungi nenek ya, nenek sendirian di sini.."

tim: "..iya nek, mari.." *perlahan meninggalkan tenda nenek tersebut*

Begitulah kira-kira percakapan antara nenek dan perwakilan tim tersebut. Kamera masih terus mengarah ke dalam tenda nenek tersebut. Tampak nenek tersebut berdiam diri di dalam tenda. Aku pun terdiam dan terpaku sejenak melihat nenek itu. Aku benar-benar merasakan dada ini sakit, seperti mengalami apa yang dialami oleh nenek itu, seperti merasakan apa yang dialami nenek tersebut. Tapi apa daya seorang yang sudah lanjut usia seperti nenek tersebut tanpa orang lain di sampingnya? Diceritakan bahwa nenek tersebut sudah 30 tahun lamanya tinggal di tenda tersebut sendirian dengan barang-barangnya. Sungguh semakin sesak dada ini, mata berkaca-kaca walau tak sampai menetes air mata ini. Aku merasa terpukul, dan aku merasa ini sebuah teguran bagiku juga.

Tak lama kemudian, beberapa orang dari tim tersebut termasuk perwakilan dari tim yang tadi kembali mendatangi tenda nenek tua tersebut dan menemui nenek tua tersebut untuk berkompromi dengan nenek itu..

tim: "..nek, ayo nek ikut kami, nenek kami bawa ke panti jompo nek.."

nenek: "..tidak mau.."

tim: "..lho kenapa nenek tidak mau? di sana nenek bisa lebih baik nek, tempat tidurnya juga nyaman, nanti kita yang bayar semuanya nek jadi nenek tinggal menempati saja.."

nenek: "..tidak mau, saya cuma mau di sini saja.., saya mau hidup di sini dan saya juga mau mati di sini, nggak tau mau dapet makan gimana caranya saya mau hidup dan mati saya di sini.."

Kira-kira seperti itulah jawaban nenek tersebut saat tim reality show menawarkan untuk membantu nenek tersebut. Aku pun terpaku dan pikiran ini seperti membeku, tak tahu harus berpikir apa. Aku kasihan dengan nenek ini. Reward yang tadi diberikan aku rasa tidak pantas lagi dikatakan sebagai reward, tetapi itu sudah sepantasnya dan seharusnya untuk nenek tersebut. Nenek tersebut memang membutuhkan dan sudah seharusnya dibantu.Aku berpikir, betapa beruntungnya aku, hidup yang berkecukupan ini, hidup dimana saat aku membutuhkan sesuatu, saat sudah dalam keadaan terjepit, masih ada saja bantuan yang bisa diandalkan. Tapi nenek tersebut, saat terdesak dalam hal makan saja, nenek tersebut harus mengemis ke orang-orang yang lewat di depan tendanya, menunggu ada yang memberinya makan.

Aku berpikir dan berpikir ke depan, andai nanti aku punya hidup yang berkecukupan atau bahkan hidup yang lebih.., Tuhan.., bantu aku untuk peka kepada mereka yang membutuhkan bantuan, supaya mereka juga bisa mengenal kasihMu. Dan sebelum aku mengakhiri posting kali ini, aku teringat pada sebuah lagu, lagu yang dulu pernah aku nyanyikan disaat aku masih remaja.. Mungkin kalian bisa mencari lagu ini dan mendengarkan lagu ini, kalian akan tahu makna sebenarnya saat kalian mendengar dan memahami setiap baris yang ada di lyricnya..

bagaimana dengan mereka

oh betapa indahnya..
hidup kita jalani..
tiada waktu terlewat tanpa bahagia..

..mari lihat ke luar
..terkadang kita lupa
..kita tak sendiri
..menikmati indahnya
..hidup yang diberikan oleh sang Pencipta

reff:

bagaimana dengan mereka yang menjerit kar’na lapar..
dan hidup dari belas kasihan orang s’perti kita..?
bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa..?
apa yang kan kita perbuat..?
karna kita diciptakan..
untuk berbagi hidup dengan mereka..

Mari, kita berbagi dengan mereka yang benar-benar membutuhkan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu mereka dalam mengarungi hidup ini..?

God bless!