Pages

October 19, 2012

Membunuh perasaan

Di suatu hari yang tenang, seperti biasa, saya melakukan pekerjaan saya sehari-hari. Hari-hari yang saya jalani juga seperti biasa saja, percampuran hal-hal yang menyenangkan dan ada juga hal-hal yang tidak menyenangkan. Nah, yang jadi sorotan adalah hal-hal yang terkadang membuat saya sebal, marah atau mengkin galau (#eaaaa). Jadi saya mulai merenung dan berpikir..
Tak jarang, saya menghadapi hal-hal yang mungkin bisa dibilang kurang menyenangkan.., dan beberapa hal tersebut terkadang berulang dalam keseharian saya.. Bisa dibilang, saya sudah biasa-biasa saja menghadapi saat-saat atau peristiwa seperti itu.. Semacam, "I'm the winner! Sudah biasa seperti itu.., alias sudah kebal".

Tapi saya coba berpikir ulang, apakah itu baik?? Kebal dengan sebuah hal, khususnya hal yang kurang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kalau dipikir-pikir lagi, kebal itu bisa dibilang saya telah "membunuh" perasaan saya terhadap hal tersebut. 

Membunuh perasaan? Saya pikir ini bukan hal yang baik. Ya, hal ini seringkali tidak disadari seseorang. Dan saya pikir tidak seharusnya saya membunuh perasaan saya, karena bisa saja dibilang saya acuh tak acuh dengan apa yang saya hadapi. Tapi saya juga bingung sendiri, terkadang ada situasi dimana kita tidak bisa menyelesaikannya, sehingga harus acuh tak acuh..


Entahlah, saya bingung juga lama-lama.. Tapi saya pikir, jikalau mungkin, lebih baik tidak membunuh perasaan kita. Kenapa? Karena menurut saya, itu akan terlihat lebih natural :)

Anda punya pendapat? Boleh share di comment jikalau ada.. :)

1 comment:

Write everything in your mind about my post here