Pages

October 22, 2010

Social Networking or So-sial Networking?

Hei ya everyone! :) Long time no see. Seems i don't have enough time for blogging (and i don't have enough idea too, maybe ;p), but now i'm back to start write again, i'm trying to pour everything inside my mind.

Ok, i've passed +/- 8 weeks in this semester. Last week, one of lecturer said something in my class, and it was about social networking. He said that he want to "mengembalikan kegunaan jejaring sosial". Why? Because today, banyak sekali orang yang menuliskan hal yang kurang penting (bahkan tidak penting) in social networking. Yes, i'm agree with that statement. Today, everytime i access my account on social networking, i can see that the content of news feed is not news anymore, but keluhan, omelan, curhat, etc. Uh oh, looks like i must write it in Bahasa Indonesia, because i think this case only happen in Indonesia!


Okei? Let's start then.. [..translating to Bahasa Indonesia..]

Yak, memang benar, jejaring sosial saat ini sungguh mengenaskan. Hampir setiap kejadian yang terjadi di kehidupan, diposting mentah-mentah di jejaring sosial tanpa berpikir panjang, baik itu kejadian yang menyenangkan (contoh: dapet hadiah, nilai kuis bagus, sukses melewati ujian), menyedihkan (contoh: dapet nilai jelek, diputusin pacar, bangun kesiangan), dan sampai ke hal-hal yang gak penting (contoh: teriak-teriak sendiri lewat status updates seperti "kyaaaaaaaaaaaaaaa.." dsb). Dan lebih parahnya lagi, jejaring sosial bagi beberapa orang sudah menjadi diary mereka, alias buku harian  jam-an menit-an. Hampir setiap menit, selalu ada aja kejadian baru (+gak penting) yang diposting lewat status updates.

Hari itu saya sedang penat, stress dan kekurangan ide mengerjakan tugas. Saya minimize semua tugas dan mulai deh buka browser, dan mengakses jejaring sosial. Maunya sih lihat-lihat, siapa tau bisa dapat ide atau dapat hal menarik yang bisa dikomentari. Tak lama setelah login ke jejaring sosial, uuuuh.., mengerikan. Bukannya dapat ide atau sesuatu yang menarik, tapi malah dapat keluhan, curhat-an, omel-an, dan macam-macam lainnya yang menurut saya gak cocok deh dipajang di jejaring sosial. Dan gawatnya, hal itu terus berlanjut hingga saat ini jika saya membuka akun jejaring sosial saya. Sial banget deh rasanya..

Lho, saya di sini buka untuk membaca keluhan anda. Saya di sini juga bukan untuk mendengarkan curhat-an anda. Sekali dua kali postingan oke lah, tapi kalo sudah mulai rekursif, keluhan keluhan dan keluhan muncul, lalu curhat panjang lebar. Bukannya saya gak mau tau, tetapi tolong dipikirkan sekali lagi saat ingin menuliskan sesuatu di jejaring sosial. Jejaring sosial terhubung luas, dan apa yang kita tulis bisa sampai ke mana-mana (apalagi kalo kamu suka berlomba dengan teman-teman mu dalam mengumpulkan jumlah teman terbanyak di jejaring sosial, tanpa peduli kenal atau enggak).

Jejaring sosial saat ini sudah berubah atau itu cuma berubah di negeri saya ya? Saya tidak mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan melalui jejaring sosial saat ini. Yang nulis keluhan dan curhat-an nya sih gapapa alias kadang tidak merasa, tetapi nggak kasihan apa sama orang-orang kayak saya yang kudu scroll-scroll mouse terus menerus, capek tau. Apalagi kalo yang diposting itu ngomongin, menyudutkan, menghina orang lain atau pihak lain. Lho, anda ini menceritakan ke-tidaksuka-an anda terhadap orang lain atau anda sedang mengumbar kejelekan diri anda sendiri? Tidak sadarkah kalau anda menjelekkan seseorang di jejaring sosial, anda dipandang oleh 100 kali jumlah orang yang anda sudutkan lewat jejaring sosial? Dan kalau salah satu dari seratus orang itu adalah saya, berati saya cukup mendapat gambaran tentang diri anda juga bukan?

Saya teringat pada sebuah cerita, tentang seseorang yang suka mengatakan keburukan orang lain kepada temannya yang lain (alias nggosip). Suatu saat orang tersebut datang ke teman baiknya dan maunya sih nggosip sama pak Pendetanya.
A: hoi bro, ada gosip, itu lho bro, orang itu lho......
B: *lekas menjawab sebelum orang tersebut selesai bercerita* Kuberitahukan satu hal kepadamu, mungkin saat ini kamu bisa bersenang-senang menceritakan keburukan orang lain kepada saya, tetapi bukan tidak mungkin saat saya tidak bersama dengan kamu, kamu akan menceritakan keburukan saya kepada orang lain. Pikirkanlah itu..
A: *..terdiam..*

Saya juga belajar dari kesalahan saya. Saya juga berusaha untuk mem-posting hal-hal secukupnya saja dan tidak perlu berlebihan. Tidak hanya untuk jejaring sosial, tetapi juga untuk blog ini. Saya juga tidak mau orang datang ke blog saya untuk mendegarkan keluhan saya. Maaf jika sebelumnya ada postingan yang tidak berkenan di hati para pemirsa. :)

Ya, sama halnya dengan apa yang kita tulis di jejaring sosial. Memang benar kata dosen saya pada waktu itu, "kembalikan fungsi dari jejaring sosial". Mari menciptakan jejaring sosial yang baik, yang berguna bagi kita semua. STOP posting hal-hal yang tidak perlu dan tidak penting, karena anda sedang dilihat oleh orang lain juga! So? Let's make it a good and useful social networking for human beings!