Pages

April 27, 2011

Merasakan apa yang dirasakan

Bulan lalu, komisi pemuda di gereja saya mengadakan suatu program yang dinamakan dengan terapi kelompok. Apa itu terapi kelompok? Terapi kelompok adalah kegiatan berkelompok dimana setiap anggotanya bisa menceritakan berbagai macam hal tentang keseharian atau problem yang pernah dialami, dengan catatan yaitu segala sesuatu yang dibicarakan di dalamnya tidak boleh dibicarakan kembali diluar kegiatan terapi kelompok. Kenapa? Tentu saja untuk privasi dan kita semua belajar untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita dan juga kita belajar untuk memberikan terapi kepada teman-teman kita atas segala hal yang dihadapinya dalam hidup. Lalu apa yang ingin saya bagikan melalui blog ini?

Seperti judul yang sudah saya tulis, ini adalah tentang merasakan apa yang kita atau orang lain rasakan. Ya, inilah yang saya peroleh dari mentor saya saat saya bersama beberapa teman saya tergabung dalam terapi kelompok ini. Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang memang kita menemui hal-hal seperti ini. Ketika ada seseorang yang melontarkan pertanyaan, misalkan saja ada seorang teman yang memiliki masalah dengan teman yang lain dan dia bertanya,

"Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?"

Pada umumnya kita selalu berusaha menjawabnya sampai tuntas, yaitu mengutarakn pendapat kita dan mencoba memberikan jalan keluar untuknya. Satu hal yang perlu kita perhatikan di sini, dia hanya menanyakan pendapat kita, bukan penyelesaian atas permasalahan. Apakah artinya itu salah? Tentu saja tidak salah, tetapi disinilah kita belajar untuk merasakan apa yang teman kita rasakan juga.

Kita perlu memahami bagaimana perilaku teman-teman pria dan teman-teman wanita. Pada umumnya, jika teman pria mendapatkan suatu masalah, tentu saja dia akan berpikir bagaimana cara menyelesaikannya karena pria dasarnya adalah problem-solver. Berbeda dengan wanita, pada umumnya jika wanita berhaddapan dengan suatu masalah, maka dia akan mencari orang lain sebagai tempat curahan hatinya dan pada umumnya dengan bercerita saja, wanita bisa merasa lega atau lebih baik jika dibandingkan saat dia memendam masalah itu sendiri. Kenapa? Karena pada umumnya, wanita memiliki prinsip "hanya ingin didengar". Wanita ingin perasaannya atau problem nya didengar oleh orang yang bisa dia percaya.

Jika wanita sedang curhat, cukup kita dengar saja tanpa menyela sampai dia selesai mengutarakan semua yang dia rasakan, itu akan membuat wanita merasa lebih baik. Berbeda dengan pria yang pada umumnya memendam permasalahan dan mencoba mencari jalan keluar sendiri, dan pada umumnya tidak akan bercerita pada orang lain jika tidak ditanya atau jika dia sudah tidak bisa menemukan jalan keluar atas apa yang dia hadapi.

Saat seseorang hanya ingin didengar, tetapi jawaban yang kita berikan adalah penyelesaian dari permasalahannya, maka sebenarnya itu kurang tepat. Kenapa? Karena pada umumnya, orang tersebut juga sudah memiliki atau memikirkan cara penyelesaian terhadap masalah yang dia hadapi sendiri, dan tentu saja berusaha mencari pendapat dari orang lain atau orang yang dipercaya. Bukan salah, tetapi hanya kurang tepat. Jika ingin memberikan penyelesaian, tunggu sampai saatnya dia bertanya tentang penyelesaian itu sendiri. Jika dia bertanya, barulah kita menjawabnya. Dengan begitu, kita belajar untuk mengikuti alur pembicaraan. Kita belajar mendengar dan kita belajar merasakan apa yang orang lain rasakan.

Tak jarang juga kita temui hal seperti ini, ketika kita berada dalam suatu tempat yang kurang nyaman dan teman kita bertanya..

"Apa yang kamu rasakan?". 

Lalu jawaban pada umumnya adalah..

"Ya.., tidak enak saja suasananya".

Lalu jika pembicaraan dilanjutkan..

"Tidak enak bagaimana?". 

Seringkali kita temui ujung dari pertanyaan tersebut adalah..

"Ya tidak tahu, ndak enak saja".

Inilah contoh bahwa rasa peka akan apa yang dialami itu sudah pudar. Ketika ditanya lebih jauh, kita sendiri bingung untuk menjelaskannya dan berakhit dengan jawaban "tidak tahu". Hal-hal seperti ini bisa terjadi karena kita secara tidak sengaja membunuh perasaan yang kita rasakan. Bagaimana itu bisa terjadi? Itu bisa saja terjadi, karena otak dan hati berjalan tidak berdampingan atau tidak sejalan.

Ketika kita disakiti oleh seseorang, kita merasa marah atau sedih atau ingin menangis. Hati kita yang merasakannya. Tetapi seringkali pada saat itu juga, logika kita atau otak kita juga berjalan dan berusaha untuk melawan apa yang dirasakan oleh hati kita. Contohnya, pikiran kita aka berkata hal-hal seperti..

"Ah, tidak apa-apa, saya harus kuat, kenapa saya harus menangis?"

Atau seperti ini..

"Ah, biar saja, saya kuat kok, buat apa saya sedih, saya harus kuat". 

Ya, seringkali itulah adanya. Bukannya salah, tetapi kita juga harus belajar merasakan apa yang kita rasakan sendiri, karena pemikiran-pemikiran yang timbul dari otak kita sebenarnya secara tidak langsung berusaha membunuh apa yang kita rasakan. Akibatnya? Kita tidak lagi peka dengan apa yang kita alami saat ini atau di waktu yang akan datang.

Lalu bagaimanakan kita harus bersikap? Apakah jika kita marah maka kita harus marah dan meluapkan emosi itu? Atau jika kita sedih maka kita harus bersedih? Bukan, bukan seperti itu, tetapi jika kita marah, mari kita belajar menerima bahwa kita memang sedang marah, atau jika kita sedih mari kita belajar bahwa kita memang sedang sedih. Berusaha belajar menerima apa yang sebenarnya kita rasakan, bukan membuang atau melawan apa yang kita rasakan. Untuk apa? Untuk membuat kita menjadi semakin lebih peka dengan keadaan di sekitar kita.

Jika marah, kita harus jujur pada diri kita bahwa, "Ya, saya marah". Dan barulah kita mencari penyelesaian dari problem tersebut. Itu akan lebih baik daripada kita tidak jujur pada diri sendiri bahwa kita marah dengan berkata dalam diri, "Saya tidak marah kok" dan lalu mencari penyelesaian dari problem tersebut. Kenapa? Karena kita kehilangan kepekaan atas apa yang kita rasakan jika kita tidak jujur pada diri sendiri.

Saya sendiri sadar setelah menjalani terapi kelompok sebanyak 5 pertemuan, saya belum cukup bisa merasakan apa yang dirasakan. Sulit? Ya, karena otak dan hati tidak berjalan berdampingan. Tetapi saya belajar untuk menerima apa yang saya rasakan juga dalam keseharian saya supaya saya peka terhadap lingkungan sekitar. Jadi, jangan membunuh perasaan anda dan tentu saja mari hidup dalam jalan kebenaran.

God bless :)